Jam pertama di kota yang belum dikenal
Jam pertama menentukan warna sepanjang liburan. Bukan karena tempatnya, melainkan karena tubuh sedang menimbang dua hal: lelah atau lega. Ada satu ancang-ancang yang jarang gagal. Turunkan tas. Cari minuman dingin. Duduk lima belas menit tanpa membuka peta.
Setelah itu barulah berjalan kaki tanpa tujuan, cukup tiga puluh menit, memutari blok tempat menginap. Kaki menghafal lebih cepat daripada layar. Warung yang buka pagi, gang yang gelap sesudah magrib, tempat menukar uang, halte terdekat; semuanya tercatat tanpa sengaja. Catatan di rubrik Internasional tentang kota-kota besar dunia hampir selalu berujung pada kesimpulan serupa: kota terbaca dari kakinya, bukan dari brosurnya.
Tegukan pertama itu, secara harfiah maupun kiasan, adalah garis batas antara “sedang menuju” dan “sudah sampai”. Sesudah garis itu dilewati, sisa hari boleh diisi apa saja.